Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan,

أَظْلَمُ الظَّالِمِيْنَ لِنَفْسِهِ مَنْ تَوَاضَعَ لِمَنْ لَا يُكْرِمُهُ وَرَغِبَ فِيْ مَوَدَّةِ مَنْ لَا يَنْفَعُهُ وَقَبِلَ مَنْ لَا يَعْرِفُهُ

“Orang yang paling zalim kepada dirinya sendiri adalah orang yang merendah kepada pihak yang tidak memuliakannya, antusias mengharapkan simpati orang yang tidak akan memberi manfaat kepadanya dan menerima pujian orang yang tidak mengenali dirinya”. [ Ath-Thabaqat al-Kubro karya asy-Sya’rani 1/43]

Istilah zalim kepada diri sendiri itu memiliki dua pengertian:

Maksiat. Semua bentuk maksiat adalah bentuk tidak sayang kepada diri sendiri.

Menyusahkan diri sendiri tanpa manfaat yang bisa didapatkan.

Zalim kepada diri sendiri dalam pengertian yang kedua di antara bentuknya adalah tiga hal yang di atas.

Sikap yang tepat kepada orang yang tidak menghormati dan menghargai kita adalah biasa saja, tidak perlu merendah-rendah kepadanya.

Tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan simpati, cinta dan selalu memikirkan orang yang tidak memikirkan diri kita.

Yang paling mengenal diri kita adalah kita sendiri. Orang lain itu memuji kita karena tidak tahu kekurangan kita. Orang yang benar-benar mengenal kekurangan diri sendiri itu tidak akan mudah terpesona dan ujub dengan pujian orang lain kepada dirinya.

 

Status Ustadz Aris Munandar, SS, MPI حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Sabtu, 10 Oktober 2020

Link:https://www.facebook.com/113425948700379/posts/3466688743374066/?app=fbl