Ucapan adalah bagian dari Agama

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Katanya “Kita tidak otomatis menjadi dokter, ketika mengucapkan selamat kepada wisudawan dokter, tidak otomatis jadi pengantin baru saat mengucapkan selamat kepada pengantin baru, dan tidak otomatis jadi presiden saat mengucapkan selamat kepada seorang yang baru dilantik sebagai presiden”.

Begitu pula saat kita mengucapkan selamat hari raya agama lain, tidak otomatis menjadikan kita menjadi penganut agama tersebut.

Jawaban kita:

  1. Memang orang yang demikian tidak otomatis menjadi penganut agama tersebut, tapi yang jelas apabila dia menyakini kebenaran akidah mereka, berarti dia telah keluar dari Islam dan keluar dari Islam bukan berarti otomatis menjadi pemeluk agama itu, sebagaimana ketika seseorang keluar dari agama non Islam, tidak otomatis dia menjadi muslim.
  2. Analogi yang disampaikan adalah analogi yang salah tempat, sehingga itu analogi yang batil.

Sangat jauh sekali antara mengucapkan selamat kepada seseorang yang berhasil meraih kebaikan, dengan mengucapkan selamat kepada seseorang atas keyakinan batilnya.

Bukankah sangat tidak pas bila ada orang mengucapkan selamat kepada orang lain atas tindakan korupsinya? atau atas tindakan menipunya? Atas pelanggaran dia terhadap HAM?

Bahkan keyakinan lahirnya “Tuhan Anak”, adalah keburukan yang jauh lebih parah dari pada korupsi, tindakan menipu, pelanggaran HAM, dan yang lainnya! Bahkan Allah katakan bahwa hampir saja langit, bumi, dan gunung-gunung hancur karena ucapan itu!

  1. Jika analogi mereka benar, tentu saja sudah dibenarkan oleh para imam-imam besar di zaman awal Islam, tapi ternyata tidah satupun dari para imam-imam besar tersebut yang membolehkannya.

Silahkan merujuk ke generasi Sahabat radhiallahu anhum, tidak ada satupun dari mereka yang membolehkannya. Begitu pula generasi tabi’in, dan tabi’ut Tabi’in rahimahumullah.

Silahkan merujuk ke kitab-kitab madzhab Syafii, Hanafi, Maliki, dan Hambali! Tidak akan ada satupun ulama rahimahumullah yg membolehkan hal tesebut.

Cobalah renungkan, apakah seluruh imam dan ulama di zaman awal Islam yang sangat mulia dan sangat tinggi ilmu agamanya itu salah semua, kemudian orang-orang tersebut di zaman ini bisa menemukan kebenaran dalam agama yang tidak mampu dijangkau orang-orang terdahulu?

Mari tanyakan kepada mereka, “Dari mana Anda mengambil agama Anda? Yang jelas bukan dari para imam dan ulama terdahulu! Atau Anda mengambil agama dari orang-orang kafir di zaman ini?”.

Imam Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan: “Sungguh, ilmu (agama) ini adalah agama kalian, maka lihatlah dari mana kalian mengambil agama kalian”.

Demikian silahkan di-share, semoga bermanfaat, dan Allah berkahi.

 

 

Ditulis Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Sabtu, 04 Januari 2020

Topics: