Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat
▪︎Definisi Thaharah
Thaharah secara bahasa adalah bersih dan suci dari berbagai kotoran hisiyyah seperti hadats dan najis, atau kotoran maknawiyyah, seperti syirik dan perbuatan maksiat.
Secara syar’i thaharah adalah menghilangkan hadats atau najis yang bisa menghalangi shalat dengan menggunakan air atau tanah. (Al-Mughni 1/12, karya Ibnu Qudamah)
▪︎Urgensi Thaharah
1. Thaharah merupakan syarat sahnya shalat seorang hamba.
Nabi shalallahu alaihi wassallam bersabda:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
“Orang yang berhadats tidak akan diterima shalatnya sampai ia berwudhu.”(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Allah telah memuji orang-orang yang mensucikan diri.
Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(QS Al-Baqarah: 222)
Allah juga menyanjung orang-orang yang shalat di Masjid Quba dengan firman-Nya:
فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ
“Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”(QS. At-Taubah: 108)
3. Sikap meremehkan dalam membersihkan najis merupakan sebab siksa kubur. Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wassallam melewati dua kuburan lalu beliau bersabda:
إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ
“Seungguhnya keduanya sedang disiksa, keduanya disiksa bukan karena perkara yang besar. Adapun orang ini, ia tidak memberishkan diri dari air seninya…”(HR. Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad shahih)
▪︎Macam-Macam Thaharah
Para ulama membagi thaharah yang syar’i menjadi dua bagian:
1. Thaharah haqiqiyah yaitu, membersihkan badan, pakaian, dan tempat dari najis.
2. Thaharah hukmiyyah yaitu, membersihkan badan dari hadats. Thaharah jenis ini terbagi tiga:
a. Thaharah kubra yaitu dengan cara mandi.
b. Thaharah sughra yaitu denga cara berwudhu.
c. Tayammum yaitu thaharah dengan menggunakan debu yang ada pada permukaan bumi. Thaharah dengan debu boleh dilakukan apabila seseorang terhalang dari menggunakan air disebabkan adanya udzur-udzur syar’i.
▪︎Hukum Thaharah
Berdasarkan pembagian di atas maka hukum thaharah terbagi dua:
1. Thaharah haqiqiyah hukumnya wajb selama seseorang ingat dan mampu untuk melakukannya.
Allah berfirman:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Mudatstdir: 4)
Allah berfirman:
طَهِّرَا بَيۡتِىَ لِلطَّآٮِٕفِيۡنَ وَالۡعٰكِفِيۡنَ وَالرُّکَّعِ السُّجُوۡدِ
“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Nabi shalallahu alaihi wassallam memerintahkan untuk mencuci kemaluan dari madzi, beliau bersabda:
يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ
“Hendaknya ia mencuci kemaluannya (yang terkena madzi) dan berwudhu.” (HR. Muslim)
2. Thaharah hukmiyah hukumnya wajib bila seseorang ingin mengerjakan shalat atau Ibadah-ibadah lain yang syaratnya harus bersih dari hadats. Sebagaiman sabda Nabi shalallahu alaihi wassallam:
لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ
“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci.” (HR. Muslim)
Status Ustadz Amir As-Soronji. Lc., M.Pd.I
Diterbitkan pada 19 Agustus 2021https://www.facebook.com/UstadzAmirAsSoronji/posts/388956392644327