Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan,

مَنْ صَدَقَ فِيْ أُخُوَّةِ أَخِيْهِ قَبِلَ عِلَلَهُ وَسَدَّ خَلَلَهُ وَغَفَرَ زَلَلَهُ

“Siapa saja yang tulus dalam bersahabat dia akan menerima dan memperbaiki kekurangan sahabatnya, serta memaafkan kesalahannya” [Muqaddimah al-Majmu’ 1/31].

Ada tiga ciri sahabat sejati.

  • Menerima sahabatnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak menuntut kesempurnaan dari sahabatnya.Sebab utama tidak bisa merasakan kebahagiaan hidup adalah menuntut kesempurnaan sikap, perilaku, tutur kata dll dari orang-orang di sekelilingnya.Orang yang menuntut kesempurnaan dari isteri, suami, anak, orang tua, tetangga, sahabat dll hanya akan memenuhi kehidupannya dengan rasa kecewa.
  • Memperbaiki kekurangan yang dimiliki oleh sahabat.Rasa cinta yang tulus kepada sahabat, suami, tetangga dll akan mendorong untuk berusaha memperbaiki kekurangan yang ada dengan cara-cara yang santun, tanpa merendahkan dan kesan menggurui.
  • Memaafkan kesalahan sahabat.Ada dua level istimewa dalam memaafkan:

 ◊ Menerima alasan orang yang meminta maaf dan memaafkannya tanpa menyanggah, menggugat dan mempertanyakan kebenaran alasan pemakluman yang diajukan.

       ◊ Memaafkan sebelum orang yang meminta maaf mengajukan alasan pemakluman.

         Hal ini dilakukan karena kesadaran bahwa alasan pemakluman itu tidak lepas dari unsur kebohongan dan orang yang memaafkan ini tidak ingin saudaranya terjerumus ke dalam dosa berbohong.

      Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik dengan sahabatnya.

      Demikian sabda Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.

       

      Status Ustadz Aris Munandar, SS, MPI حفظه الله تعالى.

      Diterbitkan Senin, 30 November 2020

      Link:https://www.facebook.com/113425948700379/posts/3607906245918981/?app=fbl