Larangan Berkata Buruk terhadap Diri Sendiri

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi bersabda:

“Janganlah seseorang di antara kalian ketika merasa susah mengatakan; “khobutsat nafsii”. Namun dia boleh mengatakan; “laqisat nafsii”. – HR. al-Bukhari.

Khobutsa = jadi buruk,

Laqisa = jadi mual, sakit.

nafsii = diriku.

Sebenarnya “khobutsa” dan “laqisa”, digunakan untuk makna yang sama. Ketika seseorang mengalami kesusahan, dia kecewa pada dirinya, lantas mengeluarkan ucapan-ucapan yang sering kita dengar: “apes, goblok, jelek, dan semisalnya”.

Namun di sini, Rasulullah melarang untuk menggunakan kata-kata; “خبث” karena satu akar kata dengan “خبيث” yang merupakan sifat bagi syaithan. Sehingga kalaupun lidah kelolosan nyebut kata-kata kesal pada diri sendiri, maka hindarilah menyebut kata “setan” atau kata-kata semisalnya yang buruk.

Karena di antara sunnah Rasulullahadalah, mengganti nama-nama yang buruk menjadi nama atau penyebutan yang lebih baik. Sebab nama dan sebutan yang negatif, punya pengaruh yang negatif juga, pada diri dan sekitar.

Duh, indahnya Islam dan syariat Nabinya. Sampai urusan lidah saja diperhatikan dan ada tuntutannya.

Untuk itu, hindari juga plesetan nama yang baik menjadi nama yang buruk. Itu bertentangan dengan sunnah Rasul ﷺ. Di #Lombok -daerah asal saya- misalkan. Ada kebiasaan yang -maaf- tidak baik. Nama orang udah bagus-bagus, eh malah diplesetin:

“Muhammad” jadi “Amat” atau “Amek”.

” Khadijah, Azizah, Faizah” jadi “Ijok”, dll.

Tidak jarang, produk akhir plesetan itu melahirkan makna yang buruk, atau jadi bahan olok-olokan.

 

Ditulis Ustadz Johan Saputra Halim حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Kamis, 2 Juli 2020

Link: https://web.facebook.com/jo.saputra.halim