Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Demi Allah saat makan di warung/rumah makan saya tak pernah mengganggap karyawan warung itu sebagai pelayan dengan memasang wajah angkuh atau sok memerintah atau marah ketika pesanannya salah sembari berdalih pembeli adalah raja.

Meskipun makan/ minum yang saya beli tak sesuai pesanan, saya diam dan tetap melahapnya.

Sebisa mungkin saya menjaga kesopanan. Seusai makan saya berusaha menghabiskan makanan semampunya dan menata/menumpuk peralatan makan agar mudah dibereskan.

Seandainya diijinkan dan tidak membuat mereka rikuh, ingin rasanya sesekali saya mencuci piring bekas makan saya sendiri (sesekali lho ya).

Saya hanya geram ketika mengantri, orang yang datang belakangan justru didahulukan. Kalau sudah begini saya akan pergi tanpa pamit.

Pernah satu kali saat saya masih sekolah. Liburan selama 1,5 bulan saya gunakan untuk bekerja menjadi kuli cangkul.

Uang hasil menguli itu saya gunakan untuk membeli sepatu. Sampai di toko saya menunjuk sepatu dengan harga agak mahal.

Karyawan mempersilahkan saya duduk di kursi lalu berusaha memakaikan sepatu itu ke kaki saya. Kaget sekali waktu itu, saya pun turun dari kursi duduk di lantai sembari merebut sepatu itu lalu memakainya sendiri.

Barangkali ia menganggap saya anak orang kaya, padahal saya hanya kuli cangkul amatiran.

Semoga tulisan ini tak mengandung unsur riya’. Hanya sebagai ungkapan kekesalan terhadap oknum dan rasa kasihan terhadap karyawan rumah makan yang hanya bisa diam terhina dimarahi oleh pelanggannya.

Ingat kita sama manusianya dengan mereka. Perut kita sama-sama berisi kotoran. Dan kelak kita akan sama-sama membusuk dimakan belatung.

Status Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله تعالى

Diterbitkan tanggal 7 Januari 2019

Link : https://www.facebook.com/abul.albayaty

Topics: