Kajian Firaq 2: Tentang Asma wa Sifat Allah

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat
  1. Jahmiyah: menafikan dan menolak semua nama dan sifat Allah,
  2. Mu’tazilah: menafikan semua sifat Allah dan menetapkan nama² Allah tapi sekedar nama tanpa makna…. Menurut mereka Allah itu punya nama as-samii’ (yang mendengar), tapi tak punya pendengaran. Allah itu al-Bashir (yang melihat) tapi tak punya penglihatan. Hanya sekedar nama tanpa makna.

Nomer satu dan dua disebut juga: al-Mu’atthilah (penolak sifat² Allah)

  1. Al- Asya’irah wal maturudiyah : Menetapkan sebagian sifat Allah, dan meniadakan sebagian yang lain dg cara mentakwilkannya.
  2. Ahlus Sunnah wal jamaah: menetapkan semua nama dan sifat Allah apa adanya sesuai yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa menyerupakannya (tasybih), tanpa memalingkan maknanya (tahrif), tanpa membagaimanakannya (takyif), dan tanpa meniadakannya (ta’thil).

Syubhat kelompok 1-3: jika Allah memiliki sifat berarti sama dg Makhluk. Sehingga semua golongan tsb meniadakan sifat Allah, baik seluruhnya atau sebagiannya.

Adapun Ahlus Sunnah meyakini:

الاتفاق في الأسماء لا يستلزم الاتفاق في المسميات

” Kesamaan nama tidak MELAZIMKAN kesamaan hakikat sesuatu.

Bagaimana menerapkan kaidah ini?

Contoh:

Ketika ahlussunnah menetapkan bahwa Allah punya wajah dan tangan sesuai dg keagunganNya, maka mereka menuduh bahwa Salafiyun (ahlussunnah) menyerupakan Allah dengan Makhluk, karena makhluk juga punya wajah dan tangan

Padahal kenapa salafiyun (ahlussunah) menetapkan Allah punya Wajah? Karena Allah sendiri yang mengabarkan bahwa Dia punya wajah sesuai dengan kebesaran dan kemulianNya.

 (وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ)

“Dan kekal lah wajah tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan” (QS. ar-Rahman: 27)

Tetapi dengan menetapkan sifat wajah bagi Allah bukan berarti Salafiyun menyamakan wajah dan tangan Allah dengan Wajah dan tangannya makhluk.

Karena kaidah mengatakan:

الاتفاق في الأسماء لا يستلزم الاتفاق في المسمى

“Kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakekat yang dinamai”

Contoh lain:

Dalam surat an-Nisa ayat 58 Allah menamai dirinya dengan سميعا بصيرا samii’an bashiiran (yang mendengar dan melihat)

Teks ayat:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا….سورة النساء 58

Sesungguhnya Allah itu samii’an bashiiran (yang mendengar dan melihat)

Meskipun demikian Allah pun mensifati manusia dalam Surat al-insan ayat ke 2 dengan سميعا بصيرا samii’an bashiiran (yang mendengar dan melihat)

Teks ayat:

(إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا)….

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia سميعا بصيرا samii’an bashiiran ( mendengar dan melihat) QS. Al-insan: 2

Tentunya pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Jadi kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakekat.

Referensi:

Syarh Lum’atul I’tiqad Syaikh Utsaimin, aqidah at-Tauhid Syaikh shalih Fauzan, Al-Qaul al-Mufid Syaikh Utsaimin.

Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc., M.HI

14 Oktober 2020

link : https://www.facebook.com/fadlan.fahamsyah/posts/1799357590219514