Dipuji Tidak Besar Kepala, Dihina Tidak Sakit Hati

Dipuji ora kemaki, dipoyoki ora lara ati (dipuji tidak besar kepala, dihina tidak sakit hati).

Di era keterbukaan infromasi dan medsos ini, pujian dan makian itu semakin mudah dilakukan. Kini betapa mudah orang menyanjung anda, dan sebaliknya begitu banyak akses untuk menghina anda. Parahnya, pujian dan makian itu ada yang merupakan hasil settingan, untuk tujuan yang bersifat recehan, alias kepentingan sesaat.

Bila anda tergila-gila dengan pujian manusia dan penakut kepada makian mereka, niscaya anda menjadi manusia kerdil yang hidup dalam bayang bayang orang lain, alias anda tertindas. Merdeka bukan sekedar fisik anda yang lepas dari penindasan, namun mental anda lebih butuh untuk merdeka dari penjajahan.

Betapa pentingnya ummat Islam merenungkan salah satu doa yang dahulu sering dilafalkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ, وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ, وَالْبُخْلِ وَالجُبْنِ, وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allah, sejatinya aku berlindung kepada-Mu dari rasa (al ham) gundah dan (al hazan) duka karena penyesalan, rasa tidak berdaya, malas, kikir, sifat penakut, terlillit piutang dan penindasan orang lain (Al Bukhari).

Kawan, sudahkah anda menghayati dan menjiwai doa yang sangat inspiratif ini?

 

 

Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA

Diterbitkan pada tanggal 7 Januari 2022

Sumber : https://www.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri/posts/488037909349611