Berbeda Pendapat bukan Berarti Tidak Suka

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Katanya, ana tidak senang dengan Ust Yazid hafizhahullah.

======

Jawaban ana:

Sungguh ini adalah buhtan (tuduhan dusta). Ana mencintai beliau karena Allah, “uhibbuhu fillah” dan ana juga sangat menghormati beliau, sebagai salah satu pembesar dakwah sunnah di negeri ini. Semoga Allah selalu memberikan taufiq-Nya kepada beliau, selalu menjaga beliau, dan melipat gandakan pahala beliau.

Jika ada yang bertanya: mengapa ana beberapa kali berbeda pendapat dengan beliau?!

Maka jawaban ana:

Itu bukan berarti ana tidak cinta kepada beliau, sebagaimana kita beberapa kali menyelisihi pendapat Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan imam-imam lainnya. Kita juga beberapa kali menyelisihi Syeikh Al-Albani, Syeikh Utsaimin, Syeikh Binbaz, dst rohimahumullahu jami’an dan itu bukan berarti kita tidak cinta kepada mereka. Kita tetap mencintai mereka karena Allah dan tetap mengakui jasa besar mereka dalam dakwah kepada Allah.

Adapun tersebarnya tulisan dengan judul “Jawaban DR Musyaffa’ Addariny hafizhahullah terhadap fatwa Ust Yazid hafizhahullah”, maka perlu diketahui bahwa judul tulisan yang provokatif itu bukan dari ana dan dalam jawaban ana itu, tidak ada kata-kata yang merendahkan beliau sama sekali. Ana menjawab dengan singkat dan sesuai dengan konteks fatwa beliau.

Adapun jawaban dari Ust Mahfuzh Umri yang ana cintai, hafizhahullah, maka ana katakan: menjawab pendapat orang lain itu hal biasa, bukan aib, selama tidak saling mencela. Itu sudah menjadi tradisi para ulama sejak zaman dahulu.

Tapi ana melihat, jawaban itu kurang tepat karena ana juga tidak mengatakan boleh menutup masjid di semua tempat, tapi hanya di tempat-tempat yang penyebaran wabahnya sudah mengkhawatirkan, karena pertimbangan maslahat umum yang lebih besar, wallahu a’lam.

Perlu diketahui juga, bahwa pendapat atau fatwa itu tidaklah mengikat, maksudnya tidak ada keharusan bagi yang tidak sependapat untuk mengikuti pendapat atau fatwa itu, yang menjadi kewajiban adalah mengikuti dalil yang menurut kita lebih kuat sesuai dengan pemahaman masing-masing, dan itulah yang nantinya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah azza wajalla, tentunya ini bagi orang-orang yang bisa memahami dalil dengan baik.

Sehingga jika ada beda pendapat, harusnya disikapi dengan adem, kepala dingin, lapang dada, saling mengerti dan memaklumi, “silahkan sampaikan pendapatmu sesuai dalilnya, dan teruslah berjalan”, sebagai mana telah dicontohkan oleh para ulama rabbani sejak zaman dulu.

Tidak mungkin semua ulama selalu satu pendapat, oleh karenanya sikapilah beda pendapat dengan baik dan bijaksana sehingga persatuan umat tetap terjaga.

Semoga bisa dipahami dengan baik dan semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

 

Ditulis Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Sabtu, 28 Maret 2020

Link: https://www.facebook.com

Topics: