“Aku, Istriku, dan Kalung Mutiara Berbenang Merah”

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

[Kisah nyata. Tulisan 6 tahun lalu. Saya revisi sedikit, plus saya beri catatan tambahan di akhirnya]

Abu Muzhaffar, cucu dari Ibnul Jauzi rahimahullah, bertutur: Ibnu ‘Aqïl rahimahullâh menceritakan (sepenggal kisah) tentang dirinya.

Beliau berkata: ‘Aku pergi menunaikan manasik haji. Tiba-tiba, aku menemukan sebuah kalung mutiara. Untaian benangnya berwarna merah.

Seorang Syaikh lanjut usia, kehilangan penglihatannya, ternyata mencari-cari kalung tersebut. Syaikh, bahkan rela mengorbankan 100 dinar bagi siapa saja yang bisa mengembalikannya. Kalung tersebut, pun kuserahkan kembali pada Syaikh (yang malang) itu.

Ia berkata: ‘ambillah dinar-dinar ini’. Namun aku menolaknya.

Kemudian aku berangkat menuju Syâm. Aku singgah di al-Quds (Palestina) untuk menuju Baghdâd. (Dalam perjalanan), aku bernaung di sebuah masjid di kota Halab (Aleppo, Syria) dalam keadaan dingin dan lapar. Para jama’ah masjid tersebut menghampiriku, maka aku pun mengimami shalat mereka. Makanan, lantas mereka suguhkan untukku.

Saat itu, Ramadhân baru menghampiri. Mereka berkata padaku:

‘Imam kami telah wafat, mohon kiranya engkau bisa mengimami shalat bersama kami bulan ini’. Aku iyakan permintaan mereka.

Kembali mereka berkata padaku: ‘Imam kami punya seorang putri’. Aku pun dinikahkan dengannya. Setahun berlalu aku tinggal bersamanya. Aku–dengan rahmat Allah–memberinya seorang putra. Saat menjalani masa nifas, istriku ditimpa sakit.

Suatu hari, kulihat istriku. Di lehernya ada seuntai kalung mutiara. Masih dengan benangnya yang berwarna merah. (Entah, kenapa baru hari itu ia mengenakannya, seolah ingin mengenang memori tertentu).

Aku lantas bertutur pada istriku: ‘kalung ini, punya kisah’. Kuceritakanlah padanya kejadianku bersama Syaikh kala itu.

Iapun menangis, seraya berkata: ‘Engkau…, engkaulah orangnya, demi Allâh. Dulu ayahku pernah menangis, dalam munajatnya ia berkata: ‘Yâ Allâh…!! Karuniakanlah putriku seorang suami semisal laki-laki yang telah mengembalikan kalung ini padaku’. Sungguh Allâh telah mengabulkan do’anya”. Istriku lantas wafat menyambut ajalnya.

Kisah ini yang indah lagi ajaib ini termaktub dalam Mirâtu az-Zamân hal. 8/52-53. Saya menukilnya dari Siyar A’lâmin Nubalâ’: 14/332-333 (cet. Dârulhadïts-Kairo, 1427-H), karya Imam adz-Dzahabi rahimahullâh (wafat: 748-H).

***

Ditulis di Ma’had tercinta, selepas shalat ‘Ashar, 07 Syawwal 1434 / 14082013

Johan Saputra Halim

(Abu Ziyân)

Catatan Tambahan (Rabu, 18 Syawwal 1441 | 10-06-2020):

“Kendati tidak disebutkan dalam kisah, saya sangat yakin, sang Istri juga menghabiskan waktu yang panjang untuk bermunajat kepada Allah, agar do’a sang Ayah terkabulkan.

Bagi saya pribadi, ini bukan hanya kisah tentang keajaiban do’a, tapi juga kisah tentang dahsyatnya Husnuzh-zhoon billaah (kesetiaan abadi dalam berprasangka baik pada Allah jalla fii ‘ulaa). Sepertinya, sang Istri yakin ajalnya sudah dekat. Untuk membuktikan keyakinannya bahwa Allah mustahil menelantarkan munajat hamba-Nya, ia pun mengenakan kembali kalung itu untuk kali yang terakhir. Allaaah…

Tentang Husnuzh-zhoon ini, semoga Allah memberikan taufiq untuk menulis kisahnya.”

 

Status Ustadz Johan Saputra Halim حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Senin, 10 Juni 2020

Link: https://web.facebook.com/jo.saputra.halim

 

Topics: