Ringkasan Fikih Wasiat

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Wasiat atau al washiyyah (الوصية) adalah perintah dari seseorang untuk melakukan suatu bentuk tasharruf (muamalah) atau suatu bentuk tabarru’ (perbuatan baik) dengan hartanya setelah ia wafat nanti (Al Mughni karya Ibnu Qudamah, 1/10). Maka wasiat di sini bisa berupa dua bentuk:

  1. Memerintahkan untuk melakukan suatu bentuk tasharruf (muamalah). Seperti seseorang yang mengatakan, “Jika saya meninggal nanti, tolong kuburkan saya di sebelah makam istri saya”, atau “Jika saya meninggal nanti tolong lunasi hutang-hutang saya”, dan semisalnya. Sebagian ulama menyebut ini dengan istilah al ii-sha’ (الإيصاء).
  2. Melakukan suatu bentuk tabarru’ (perbuatan baik) dengan harta. Seperti seseorang mengatakan, “Jika saya meninggal nanti, maka tanah milik saya di tempat A, saya wakafkan untuk masjid”, “Jika saya meninggal nanti, maka uang saya sebesar 50 juta tolong diberikan kepada panti asuhan B”, dan semisalnya.

[Anjuran untuk membuat wasiat]

Dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan dianjurkannya membuat wasiat, terutama ketika sakit atau menjelang wafat. Allah ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

“Diwajibkan atas kalian, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Baqarah: 180).

Dalam hadits, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’ahu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، له شيءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ، إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidak layak bagi seorang Muslim melewati dua malamnya padahal ia memiliki sesuatu hal untuk diwasiatkan, kecuali wasiatnya sudah tertulis di sisinya” (HR. Bukhari no.2738, Muslim no.1627).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disyariatkan untuk bersegera dan tidak menunda-nunda menulis wasiat. Ketika memang ada perkara yang perlu untuk diwasiatkan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi)

Membuat wasiat hukumnya sunnah, tidak diwajibkan. Karena mayoritas para sahabat Nabi tidak meninggalkan wasiat ketika mereka wafat. Adapun surat Al Baqarah ayat 180 yang menyatakan wajibnya wasiat, ini telah mansukh (dihapus hukumnya) dengan turunnya surat An Nisa ayat 7. Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata: “ayat ini (Al Baqarah ayat 180) telah mansukh oleh ayat waris” (lihat Al Fiqhul Islamiy karya Wahbah Az Zuhaili, 10/7443).

[Kewajiban menunaikan wasiat]

Pada asalnya, wasiat dari seseorang yang sudah meninggal itu wajib ditunaikan oleh keluarganya. Selama wasiat tersebut memenuhi ketentuan-ketentuan syar’i. Allah ta’ala berfirman:

فَمَن بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah: 181).

Para ulama Al Lajnah Ad Daimah mengatakan, “Wajib bagi wali (keluarga) dari mayit untuk menunaikan wasiat dari mayit, selama sesuai dengan syari’at. Jika tidak ditunaikan, atau ditunaikan dengan cara yang tidak benar, maka yang berdosa adalah para walinya (keluarganya) tersebut” (Fatawa Al Lajnah, 16/369-370).

[Ketentuan-ketentuan dalam wasiat]

Ada beberapa ketentuan yang terkait dengan perkara yang diwasiatkan, sehingga wasiat menjadi wajib ditunaikan jika terpenuhi ketentuan-ketentuannya. Di antaranya:

  1. Isi wasiat tersebut berupa kebaikan, bukan maksiat atau perkara yang batil

Karena tidak boleh taat kepada siapapun jika ia memerintahkan untuk maksiat, baik ketika ia masih hidup ataupun ketika ia sudah meninggal. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Oleh karena itu para ulama melarang menunaikan wasiat yang berisi maksiat. Dalam matan Mukhtashar Al Khalil juga disebutkan,

وبطلت بردته وإيصاء بمعصية

“Wasiat itu batal jika orangnya murtad, dan wasiat juga batal jika isinya berupa maksiat”.

Demikian juga wasiat yang isinya berupa perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menyia-nyiakan harta, menjatuhkan wibawa, atau menimbulkan kemudharatan bagi keluarga yang ditinggalkan. Maka tidak wajib menunaikannya. Ibnu Rusyd rahimahullah menyatakan,

لا يلزم أن يُنفَّذ من الوصايا إلا ما فيه قربة وبر

“tidak wajib menunaikan wasiat kecuali jika isinya berupa qurbah (ibadah) dan kebaikan” (Al Bayan wat Tahshil, 2/287).

Seperti jika mayit berwasiat untuk dimakamkan di tempat yang sangat jauh, maka ini menimbulkan kemudharatan bagi kelaurga yang ditinggalkan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

وإذا كانت المقبرة بعيدة من بلد إلى بلد فلا وجه لهذه الوصية ولا حاجة إلى تنفيذها بل يدفن في مقبرة بلده

“Jika tempat pemakaman yang diwasiatkan itu sangat jauh dari tempatnya, maka tidak wajib dan tidak ada kebutuhan untuk menunaikan wasiat ini. Hendaknya ia dimakamkan di negeri tempat ia berada” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi).

  1. Wasiat harta tidak boleh lebih dari 1/3 total harta

Ketentuan terkait wasiat dalam bentuk tabarru’ (perbuatan baik) dengan harta, ia tidak boleh lebih dari 1/3 total harta. Karena jika lebih dari 1/3 total harta, akan membahayakan ahli waris, yang mereka lebih berhak terhadap harta warisan mayit. Sehingga tidak sah wasiat harta yang melebihi 1/3 dari total harta. Sebagaimana dalam hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata:

تَشَكَّيْتُ بمَكَّةَ شَكْوًا شَدِيدًا، فَجاءَنِي النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَعُودُنِي، فَقُلتُ: يا نَبِيَّ اللَّهِ، إنِّي أتْرُكُ مالًا، وإنِّي لَمْ أتْرُكْ إلَّا ابْنَةً واحِدَةً، فَأُوصِي بثُلُثَيْ مالِي وأَتْرُكُ الثُّلُثَ؟ فقالَ: لا قُلتُ: فَأُوصِي بالنِّصْفِ وأَتْرُكُ النِّصْفَ؟ قالَ: لا قُلتُ: فَأُوصِي بالثُّلُثِ وأَتْرُكُ لها الثُّلُثَيْنِ؟ قالَ: الثُّلُثُ، والثُّلُثُ كَثِيرٌ

“Suatu hari di Mekkah, saya sedang sakit parah. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjengukku. Aku berkata: “Wahai Nabi Allah, aku memiliki banyak harta namun aku hanya memiliki satu orang putri. Bolehkah aku mewasiatkan 2/3 hartaku dan 1/3 untuk waris?”. Nabi menjawab: “tidak boleh”. Sa’ad berkata, “Bolehkah aku mewasiatkan 1/2 hartaku dan 1/2 sisanya untuk waris?”. Nabi menjawab: “tidak boleh”. Sa’ad berkata, “Bolehkah aku mewasiatkan 1/3 hartaku dan 2/3 sisanya untuk waris?”. Nabi menjawab, “Boleh. Dan wasiat sebanyaj 1/3 itu sudah cukup banyak” (HR. Bukhari no.5659).

  1. Ahli waris tidak boleh menerima wasiat

Harta wasiat tidak boleh ditujukan kepada ahli waris. Karena ahli waris sudah mendapatkan hak berupa harta waris. Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

إنَّ اللَّهَ قد أعطى كلَّ ذي حقٍ حقَّهُ ، فلا وصيَّةَ لوارِثٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberikan hak setiap orang yang berhak mendapatkannya. Maka tidak boleh ada harta wasiat bagi ahli waris” (HR. Abu Daud no. 2853, At Tirmidzi no. 2203, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Maka harta wasiat itu ditujukan untuk segala bentuk tabarru’ (perbuatan baik) kepada selain ahli waris. Seperti wakaf masjid, donasi panti asuhan, membantu fakir miskin dan perbuatan baik lainnya.

  1. Wasiat ditunaikan sebelum pembagian warisan

Sebagaimana secara jelas ditunjukkan oleh firman Allah ta’ala, ketika Allah menjelaskan tentang ketentuan waris:

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ

“(warisan dibagikan) setelah menunaikan wasiat yang diwasiatkan oleh mayit atau setelah melunasi hutang (mayit)” (QS. An Nisa: 11).

Wallahu a’lam

 

Ditulis Ustadz Yulian Purnama حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Minggu, 31 Januari 2021

Link: https://web.facebook.com/yulian.purnama

Topics: