Pencitraan, Bukan Citra

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Kita hidup di belantara gadget. Obsesi kita tak lagi karya, tapi like dan followers. Bukan isi dan fungsi, tapi casing dan gaya.

Kita hidup di era; menolong dan menderma wajib diselingi dengan selfie. Foto makanan dan minuman lalu share, jauh lebih urgen dari makan dan minum. Menggandeng tongsis jauh lebih penting dari menggandeng tangan si kecil buah hati.

Kita hidup dalam penjara stereotype yang dipaksakan. Pencitraan…, bukan citra. Waktu menghias topeng, lebih banyak dari waktu menghias pekerti, jauh. Siapa pemilik topeng terindah dan memikat, dialah pemenangnya. Dialah penguasa yang bakal menentukan. Dialah idola yang layak jadi teladan. Teladan kepalsuan…!!

Kita adalah tawanan dunia lain. Dunia alien bernama; “Maya”. _The second life_ kata mereka. Tepatnya; kehidupan tanpa jiwa.

Kita hidup, tapi “mati”…. Wujud kesedihan dan empati, cukup emoticon yang mewakili. _”Baarakallaahufiikum….”, “Syafaakallaah….”, “Baarakallaahu laka wabaroka ‘alaika….”, “Innaa lillaahi maa akhodzaa…”,_ dan berbagai doa lainnya, tak lagi keluar dari lisan dan hati. Cukup copy-paste. Yang penting setor muka tanda empati. Empati palsu…!! Aneh…?? Sangat…!! Yang lebih aneh lagi, kita berharap dihadiahi empati palsu.

Kita hidup di masa; cuitan-cuitan di medsos mampu mengoyak-ngoyak satu negeri. Jutaan like dan comment, mampu mengubah haluan negara. Bahkan haluan keimanan. Kita hidup dalam kepalsuan dan kebodohan. Gila…?? Sangat…!! Lebih gila lagi, kita menumpu harapan pada kepalsuan dan kebodohan.

Tak ada jalan selamat. Selain kembali ke alam nyata. Bangun dari mimpi dan angan-angan kosong. Menjadi diri apa adanya. Hamba Allah sejati. Menuluskan hidup dan amal, semata untuk-Nya…, dan karena-Nya. Tak peduli celaan manusia. Tak harap pujian mereka. Celaan mereka sementara. Pujian mereka kepalsuan. Hanya ridho dan cinta-Nya…, semata. Jangan pernah amarah…, dan murka-Nya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ….

_”Padahal mereka hanya diperintah beribadah pada Allah dengan memurnikan keikhlasan pada-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama,….”_ [QS. al-Bayyinah: 5]

_________

 

Ditulis Ustadz Johan Saputra Halim حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Selasa, 21 Juli 2020

Link: https://web.facebook.com/jo.saputra.halim