Kehati-hatian Ulama’

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Fatwa di sebuah tempat belum tentu cocok di tempat lain

Maka dari itulah Imam Asy-Syafi’i memiliki qoul qodim (pendapat lama) dan Qoul jadid (pendapat baru), yang demikian itu karena tempat, kondisi dan waktu, telak menyebabkan terjadinya perbedaan hasil fatwa.

Ketika Syaikh Fauzan – semoga Allah menjaga beliau- memberi kajian lepas maghrib di Masjid asrama (jami’atul Imam Riyadh), kebetulan kami pada waktu itu bersama Al-Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri

Syaikh Fauzan ditanya oleh mahasiwa non-Saudi (seingat kami dari Asia Tengah) tentang perihal yang pelik di negaranya.

Maka Syaikh menjawab: “Tanyakan hal ini kepada ulama’ di negerimu.”

(Kami agak terheran, bukankah beliau dianggap ulama kibar tapi kok beliau masih menyuruh menanyakan ke ulama lain di negeri si penanya).

Hal di atas senada dg yang ungkapkan syeikh Sa’d al-Khotslan (Adhw haiah kibar ulama saudi)

[ لا تحل الفتيا عند عدم التصور الدقيق للنازلة.

[ قاله الشيخ سعد الخثلان في الدورة بعنوان النوازل في ققه العبادات

Tidak dihalalkan fatwa tanpa adanya penggambaran yang teliti dan mendalam terhadap peristiwa yang terjadi  (disampaikan beliau pada dauroh an-Nawazil fi fiqh al-ibadat)

Juga Selaras dengan teori transformasi “hukum”/ fatwa yang dipopulerkan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam I’lamul Muwaqqi’in.

Maka dari itu hendaklah seorang mustafti (peminta fatwa) memberikan penggambaran yang mufashshol (terperinci) agar fatwa yang dikeluarkan oleh Mufti (pemberi fatwa) sesuai dengan kondisi tempat dan waktu si mustafti.

 

Terkadang masalahnya bukan di mufti tapi masalah ada di mustafti, hal itu bisa terjadi karena beberapa hal:

  1. Tidak adanya tashowwur mufashol (penggambaran masalah secara terperinci) dari mustafti
  2. Niat jelek dari mustafti untuk mengarahkan mufti agar berfatwa seseuai dengan keinginannya.

Semoga Allah menjaga para ulama kita

 

Status Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc., M.HI

Diterbitkan 15 Desember 2020

Link  https://www.facebook.com/fadlan.fahamsyah