Salah Ilmu atau Salah Guru?

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

 

Kita tak hanya butuh ilmu dari ustadz Ahlussunnah, tapi kita juga butuh teladan dari akhlak mereka yang mulia; dari keikhlasan mereka, ketawadhuan, tutur kata mulia dan muamalah mereka yg penuh rahmat pada sesama mukmin -terlebih mukmin Ahlussunnah-.

 

Kita butuh belajar dari kelemahlembutan mereka, kesabaran mereka, sikap mereka yang inshaaf pada yang haq, di manapun yang haq itu berada.

Kita butuh mereka sebagai cermin motivasi dalam akhlak dan adab, juga dalam amal; shalat malam, berdzikir, puasa nafilah, tilawah Al-Qur’an, infaq, dan amalan-amalan Sunnah lainnya. Dan itu kita raih dari ustadz yang tidak hanya berilmu dengan keilmuan di atas manhaj Salaf, tapi juga yang mengamalkan ilmunya, yang punya khosy-yah pada Allah ta’ala.

 

Karenanya, jika kita justru gembira ketika saudara mukmin Ahlussunnah tergelincir dalam kesalahan, nikmat ketika membicarakan aibnya, lisan begitu ringan berucap kotor demi menjatuhkan kehormatannya, bahkan senang dengan musibah yang menimpanya, sementara di sisi lain ilmu dan amal kita justru tak bertambah, hati bertambah keras, banyak menyimpan dengki dan amarah pada sesama Ahlussunnah, serta nafsu untuk melampiaskannya, maka coba koreksi lagi; sebenarnya ilmu model apa yang telah kita pelajari, dan kepada siapa kita menimbanya.

 

Jangan-jangan, selama ini kita salah ilmu, atau salah guru.

Karena ilmu yang shahih dengan teladan pengamalannya yang benar, pasti akan menyucikan jiwa dan perangai. Sebab Allah telah berfirman:

 

رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيهِمۡۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Ya Rabb kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan *mengajarkan Kitab dan Hikmah* kepada mereka, dan *menyucikan* mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” -Sura Al-Baqarah: 129.

 

Baginda Rasul bersabda:

إنما بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مكارمَ و في روايةٍ ( صالحَ ) الأخلاقِ

“Aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia” [Silsilah Shahihah: 45]

Untuk itu, setelah menemukan guru yang berilmu lagi mulia akhlak dan adabnya, teruslah berada di dekatnya. Lantas jangan pernah berhenti berdoa, untuk selalu dipertemukan dengan guru-guru yang semisalnya atau lebih.

 

 

Ditulis Ustadz Johan Saputra Halim حفظه الله تعالى.

Diterbitkan Selasa, 17 November 2020

 

Link: https://web.facebook.com/jo.saputra.halim