Waqof Imam Syafi’i

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Bidang studi ilmu waqof dan ibtida memiliki daya tarik tersendiri. Sebab ia berkaitan erat dengan berbagai cabang ilmu sekaligus, mulai dari Ilmu Qiroat, Tafsir, Bahasa Arab hingga Ilmu Fawashil.

Oleh karenanya, tak heran jika membaca berbagai kitab dalam bidang ilmu qiroat, acapkali kita mendapati sang muallif membahas ilmu satu ini, baik secara rinci ataupun umum.

Beberapa waktu yg lalu kami mendapatkan faedah yg cukup menarik saat tengah menelaah kitab Al Kamil karya Imam Al Hudzali rohimahulloh. Kitab ini sendiri merupakan salah satu kitab penting dalam ilmu Qiroat.

Saat melirik pembahasan waqof dan ibtida, beliau sedikit menyinggung waqof yg dipilih oleh Imam As Syafii rohimahulloh, yaitu pada firman Allah:

{۞ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ} [البقرة : 158]

Beliau menyebutkan bahwa Imam Syafii memilih waqof pada lafadz

(فلا جناح)

Kemudian langsung melanjutkan :

عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

Bagi anda yg pernah belajar bahasa arab tentu paham bahwa saat memulai dari lafadz:

عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِما

Secara otomatis susunan kalimat yg awalnya berbentuk kabar alias berita berubah menjadi perintah yg menunjukkan kewajiban untuk melaksanakan Sa’i antara shofa dan marwa. Atau jika kita gunakan istilah bahasa arab, bisa kita sebut dengan jumlah Khobariyyah yg berubah menjadi Jumlah Insyaiyyah.

Cara waqof diatas ini tentunya didasari pada penafsiran tersendiri untuk ayat tersebut.

Saat menukil hal diatas, Imam Al Hudzali menyarankan kepada para pembaca untuk merujuk kepada kitab beliau yg khusus membahas Waqof & Ibtida yg berjudul Durroh Al Wuquf.

Namun sayang beribu sayang, kitab tersebut masuk dalam kategori manuskrip yg hilang. Padahal bisa jadi di dalamnya beliau banyak menukilkan pendapat Imam Syafii dalam masalah waqof, sebagaimana beliau sebutkan beberapa riwayat bacaan Imam Syafii dalam kitab Al Kamil.

Sebagai catatan tambahan:
Ibnul Jazari rohimahulloh berpendapat bahwa cara waqof seperti diatas termasuk dalam kategori waqof ta’assuf, alias waqof yg “dipaksakan”.

Tak mengherankan sebenarnya, sebab jika menilik tafsiran para ulama, maka waqof seperti diatas kurang tepat. Terlebih lagi saat menelaah asbabun nuzul ayat diatas yg kerap dinukilkan oleh para ahli tafsir.

Semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati para ulama kita. Amiin.

Wallahu a’lam.
==========
Al Kamil, Abul Qosim Al Hudzali
An Nasyr, Ibnul Jazari

 

Status Ustadz Afit Iqwanuddin,A.md.,Lc
Diterbitkan 12 Maret 2020

Link : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3010931698927227&id=100000312782626