2 Faktor Utama dibalik Kesalahan dalam Membaca Al-Quran

Silahkan Bagikan Semoga Bermanfaat

Sedari dulu, para ulama telah mewanti-wanti kaum muslimin agar tidak terjatuh dalam kesalahan saat tilawah Al-Quran. Sebab sebagaimana umumnya ibadah, kita diperintahkan untuk mengikuti apa yang telah Rasululloh sholllallohu ‘alaihi wasallam gariskan. Tata cara membaca Al-Quran sendiri telah diwariskan turun-temurun melalui metode talaqqi. Disamping itu, para ulama juga telah menorehkannya dalam buah karya mereka.

Perlu diketahui bahwa terdapat 2 hal yang menjadi “tokoh utama” dibalik munculnya kesalahan (lahn) dalam membaca Al-Quran:

Pertama: Tidak Memahami bahasa arab
Sudah menjadi hal yang mafhum bahwa Allah subhanahu wata’ala menurunkan Al-Quran dengan bahasa arab. Oleh karenanya, pemahaman yang buruk terhadap bahasa arab bisa menyebabkan terjadinya kesalahan saat tilawah. Sebuah peristiwa mengejutkan pernah terjadi di abad pertama hijriyah, dimana ada seseorang yang salah dalam membaca firman Allah ta’ala di surat At-Taubah ayat ketiga:

وَأَذَ ٰ⁠نࣱ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۤ إِلَى ٱلنَّاسِ یَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِ أَنَّ ٱللَّهَ بَرِیۤءࣱ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ وَرَسُولُهُۥۚ

Alih-alih membaca lafadz (وَرَسُولُهُۥۚ) dengan benar, orang tersebut justru membaca huruf lam pada kata tersebut dengan kasroh.

Sekilas kesalahan yang terjadi mungkin nampak sepele, hanya merubah dhommah menjadi kasroh. Namun bagi mereka yang paham bahasa arab, tentu menyadari bahwa kesalahan yang dilakukan sungguh sangat fatal. Sebab dalam bahasa arab, salah satu harokat saja akan mampu merubah makna yang terkandung 180 derajat, ayat diatas salah satu contohnya.

Peristiwa “menyakitkan” ini nantinya menjadi tonggak utama sejarah pemberian tanda dalam mushaf Al-Quran hingga bisa kita nikmati saat ini.

Kedua: Salah dalam memilih guru talaqqi
Guru memiliki peran penting dalam mencetak generasi penerus. Tak heran jika para ulama dengan tegas mengingatkan agar kita selektif dalam memilih guru, termasuk dalam hal membaca Al-Quran.

Diantara nasehat yang kerap disampaikan oleh para ulama kepada penuntut ilmu adalah:

لا تأخذوا القرآن من مصحفي

“Janganlah kalian mempelajari Al-Quran dari seorang ‘mushafi’ ” (Lihat: Tashifat Al-Muhadditsin, Al-‘Askary)

Istilah “mushafi” sendiri ditujukan kepada orang yang mempelajari Al-Quran hanya dari mushaf alias “otodidak” tanpa guru.

Hal diatas menunjukkan bahwa terdapat kriteria tertentu yang perlu dipenuhi bagi seseorang yang hendak mengajarkan Al-Quran, bukan sembarang orang.

Wallahu a’lam.

Semoga Allah Subhanahu wa taala memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu. Amiin.

Referensi:
An-Nasyr, Ibnul Jazari
Munjidul Muqriin, Ibnul Jazari

 

Status Ustadz Afit Iqwanudin,Amd.,Lc
Diterbitkan 23 September 2020

Link : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3540482549305470&id=100000312782626